Saturday, May 15, 2010

Kisah Cinta Tragis

Kisah cinta yang tragis itu banyak di dunia ini. Dan aku ingin membahas dua di antara mereka, karena kisah mereka memiliki kemiripan. Sebutlah saja, yang paling terkenal dan tetap dikenal sampai sekarang, Romeo and Juliet, karya Shakespeare. Dan, bagi yang membaca D.N.Angel, kisah Elliot dan Freedrett pada volume 6.

Mereka memiliki pola yang sama. Suatu hari mereka bertemu, lalu jatuh cinta. Suatu hari, salah seorang di antara mereka mati. Kemudian karena berduka, pasangannya bunuh diri. The End.

Aku terkadang bingung ketika menyaksikan atau membaca cerita - cerita di atas, yang kusebutkan tadi. Entah apakah yang mereka lakukan itu bodoh atau pintar.

Ambilah contoh kisah Romeo dan Juliet. Cinta Romeo dan Juliet tentu tak akan disetujui oleh kedua orang tua mereka, yang saling bermusuhan. Kemudian, ketika Juliet pura - pura meninggal, Romeo mengira dia benar - benar meniggal (wajar sih...) dan kemudian bunuh diri. Aku bertanya - tanya dalam hati. Seandainya pun jika Juliet benar - benar meninggal, kenapa Romeo harus bunuh diri? Mengapa ia tidak berjuang untuk hidup? Apakah ia sudah benar - benar kehilangan alasan untuk hidup? Bukankah keluarga dan sahabat - sahabatnya sendiri akan bersedih? Mengapa ia tidak memikirkan perasaan mereka?

Lalu, seandainya Romeo kemudian meninggal dan Juliet terbangun. Ia begitu bersedih. Begitu sedihnya sampai - sampai akhirnya ikut bunuh diri dengan Romeo. Bagiku, itu juga hal yang konyol, dengan alasan seperti di atas.

Namun, setelah merenungkan hal itu, aku berpikir. Tapi bukankah dengan kematian mereka, keluarga Montague dan Capulet berdamai? Apakah ini yang disebut sebuah pengorbanan? Tapi rasanya benar - benar menyedihkan bukan, kalau harus mengorbankan sebuah cinta yang ada di dunia untuk perdamaian?

Yah, aku membahas Romeo dan Juliet di sini, namun, pendapatku mengenai kisah Elliot dan Freedrett sama saja. Elliot sudah hidup kembali dengan nyawa pemberian Freedrett. Dengan kata lain, bila ia mati, sia - sia saja pengorbanan kekasihnya itu. Tapi begitu terbangun, dan mengetahui fakta itu, dia masih menusuk dirinya dengan pedang dan meninggal. Dasar bodoh!

Namun, meski aku berkata demikian, aku bisa mengerti sedikit mengapa mereka melakukannya. Ketika mencintai seseorang, kita tidak bisa hidup tanpa dirinya. Bagi kita dan mereka dalam kisah itu, pasangan mereka adalah nafas mereka, dan hidup mereka. Bila itu dicabut, alasan mereka untuk hidup sama saja dengan tiada. Hanya saja, akal sehatku tidak bisa menerima itu. Bagiku nonsense untuk bunuh diri karena cinta. Mengapa kita tidak mencoba menemukan alasan untuk "hidup" kembali?

No comments: