Hinaan dan cela ditelan olehnya. Makian kasar menampar wajah dan menusuk hatinya. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Matanya seperti pembunuh yang sudah siap membunuh. Di dalam hatinya, kemarahan berkobar - kobar, siap menelan sang penyulut api. Tuduhan - tuduhan diterimanya dalam diam. Ia tahu, tak ada guna untuk melawan semua itu. Namun, wajahnya menunjukkan kemarahan yang sangat jelas. Sakit hati yang terukir di wajahnya. Hatinya memaki - maki, mendendam. Tahu apa mereka? Tak ada...tak ada seorang pun yang tahu! Mereka hanya manusia - manusia yang munfaik. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka hanya menindak seseorang tanpa melihat ke dalam dirinya, bukan? Ia tertawa pahit. Kemarahannya digantikan ketenangan. Perubahan itu secepat berhembusnya sang angin. Secepat cahaya yang melintasi ruang - ruang di angkasa. Yah, biarlah... biar mereka melakukan hal itu. Yang terpenting, ia tetap dirinya sendiri. Yang penting, ia tetap dan memiliki alasan untuk hidup. Ia tidak berakhir seperti manusia kehilangan harapan yang membunuh dirinya sendiri. Bukan?
Dan bersama pikiran - pikiran itu, ia tersenyum, dan berjalan. Melanjutkan petualangannya. Ke mana ia pergi, hanya langit yang mengawasi, yang tahu. Hanya angin, yang berjalan bersamanya, yang tahu...
No comments:
Post a Comment